Rabu, 27 Februari 2013

Sampai disini saja.

Perjalanan ini seperti melanjutkan episode sebelumnya. Seperti kisah yang tak berkesudahan. Dihiasi pesakitan yang terasa itu itu saja, bahkan semakin membabi buta. Aku baru mulai akan mencintai, tetapi sekali lagi bias kebohongan mencampuri urusan hatiku. Ah, ada apa dengan jalur hidupku Tuhan? Tak adakah perasaan yang tersisa untuk hati yang penuh tambalan penyakit yang sulit diobati ini? Penyakit cinta tepatnya! Kenapa lagi2 Kau mendatangkan ketakutan itu?
Tuhan, maafkan aku telah membohongi bocah tengil itu, aku membuat seorang tokoh palsu yang kusebut “pacar lama” padanya. Agar tak hanya aku yang sakit hati, tapi dia juga merasakan hal yang sama. Aku sudah berusaha baik padanya Tuhan, aku berusaha untuk benar2 menghargainya. Benar2 menaruhnya di urutan pertama dalam perhatianku. Tapi ya begitulah manusia, tak pernah ada puasnya. Seperti “mantan” ku yang satu itu, yang pantas kusebut “pocong”, dengan hobi nya lompat sana sini mencari incaran pas untuk ditakut2i.
Ah sial! Tuhan, mengapa aku harus menjadi tokoh protagonis disini? Kenapa tidak Kau jadikan aku tokoh antagonis, biar banyak orang yang takut padaku. Tak ada yang berani menyakiti. Termasuk si pocong yang satu itu. Pocong yang tiap lekuk garis wajahnya benar benar ku kenali.
Tuhan, tidak pernah terbersit itikad buruk padanya. Aku hanya minta satu hal, jagalah dia. Mungkin bahagia nya tidak ada padaku, atau mungkin dia belum menemukannya di dalam sini? Di hatiku Tuhan.. semoga kekasihnya nanti mengerti benar bagaimana penyakitnya dan kehidupannya yang klimaks! Tuhan, kisah ini akan kututup, sampai disini saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar