Rabu, 07 Mei 2014

Baru Setengah Benam


Ada yang terpikat ketika
kedua mata beradu
salah ku bilang salah
jikalau ku tatap matamu nanti
bisa jatuh
akhirnya jatuh

genap kian genap
semakin didekap
rasa kian mengalir
dibalas sekejap
tak lama tergelincir

rasaku layu
sebelum ditanam kukuh
baru setengah benam
sudah mau hilang
baru setengah benam
dilepas paksa perlahan
sakit daripada cabut sekilat

Senin, 28 Oktober 2013

Lupa Kasih Judul

Eh kamu! Selamat pagi dulu dong. Selamat siang juga boleh lah. Atau Selamat malam saja.. Sebenarnya aku mau menyapa setiap saat, cuma sadar dengan pengacuhan perasaan yang sudah lama dijalin secara paksa nih.. 
Sedang mau bertengger di bahu sendiri saja. Enggak mau bawa-bawa masing-masing hati. Ditinggal saja dulu di laci, nanti baru dimasukkan kembali setelah ku tulis ini sampai selesai. 
Kamu sangat tahu betapa besarnya aku menaruh hati. Kepada siapa? Tentu saja bukan pada laci tadi. Tanpa perlu ku sebutkan,  kamu tahu bukan? Tapi tiba-tiba saja mampirlah sebuah cermin besar didepanku. Dia memaksaku untuk berkaca.  Kau tahu maksudnya? Aku musti sadar diri, siapalah aku. Bagai seorang yang mencoba narkoba lalu ketagihan setiap hari. Aku ketagihan kamu setiap malam. Selalu menanti walau tak dinantikan.
Wajar saja kalau kamu bilang kamu tidak suka padaku. Toh, nanti juga perasaan ini lalu menghilang. Menguap lama-lama terkena panas hati sendiri. Aih! Menyesal lah aku jika malam itu tak ku utarakan semua yang mengusik di bagian tubuh yang paling lemah ini. Hatiku boss!
Kamu masih dengan pengacuhanmu, sementara aku masih dengan pengagumanku. Sudah tahu kamu menolak tapi aku masih mengharap. Untung saja aku tidak mengemis. Bisa jatuh harga diri ini. Tampar saja aku biar sadar. Kamu buat aku mabuk, cinta!

Sabtu, 26 Oktober 2013

A Man with Glasses.

Bolehkah ku samarkan namamu disini sebagai "a man with glasses"? Aku sudah sejak awal memperhatikanmu. Bahkan sebelum kamu benar-benar terduduk sunyi di barisan sejajar, di seberang lengkap dengan kemeja biru ala-ala mu. Kita terhalang jarak sekitaran empat ubin ukuran sedang. Pendaratan pertama di kelas baru. Dengan muka datar kamu mengacuhkan segala hal di sekeliling termasuk aku. Diam. cuma itu yang bisa kamu nampakkan. Serasa tak mau punya kawan. Dan kau tahu, pandangan matamu sudah laksana model iklan L-men  yang so' cool. Hih! kamu memang seperti itu sejak dulu. Aku tahu..
Perhatikan, dulu setiap kali kita bicara berhadapan aku selalu salah tingkah, bahkan tak bisa diam. Menatap matamu saja seperti mau di terkam singa kelaparan. Tapi, setelah ku lihat lebih lama lagi, mengenal lebih jauh dari jarak yang sebelumnya, bahkan kamu sengaja menyuruh aku berlama-lama menghadapkan retina kita masing-masing. Jadi sudah terbiasa, sekarang ku kenali kamu bukan sebagai model iklan itu lagi, tapi ya sebagai dirimu. Yang tidak tahu harus ku gambarkan seperti apa.

Pemujaan.

Tuhan, kali ini aku mau berucap terimakasih kepada-Mu. Mungkin tanpa perlu aku jelaskan, Engkau tahu untuk apa ucapan ini aku tujukan. Tapi, aku ingin sedikit berbagi kisah dengan-Mu kali ini. Biarpun sebenarnya Engkau Yang Maha Mengetahui tanpa perlu aku beritahu dan Engkau Yang Maha Mendengar tanpa perlu kuminta. Maafkan hamba-Mu yang sedikit 'kelebihan bicara' ini Tuhan.
Tuhan, sekali lagi kupanggil nama-Mu. Terimakasihku kali ini adalah untuk mahakarya-Mu. Makhluk yang Engkau ciptakan dari segumpal darah yang kemudian Engkau hadiahi ruh sesuka Mu. Makhluk yang Engkau takdirkan untuk hidup dan menghidupi duniaku sekarang. Aku sangat tahu bahwa tidak ada yang patut dipuja selain Engkau, tapi aku malah memujanya. Sebagai pemuja yang wajar. Tapi kali ini wajarku malah sudah kelewatan. Batasi perasaan ini, biar aku tak memuja yang lain selain Engkau Yang Maha Super Duper Special Mega Awesome. Hahaha!

Malam ini punya kita!!

Gelap dan sunyi. Dua hal yang bisa dijadikan simbol malam secara dewasa. Namun, kamu bisa sebut saja Bulan dan Bintang jika kamu menaunginya sebagai anak kecil.
Entah, aku seperti memuja malam hari. Melawatkan malam begini selalu membuatku banyak merenung. Merenungi segala hal yang menarik untuk direnungi. 
Aku biasa bertahan dalam pelukan malam bersama ajudan-ajudan jantanku. Teman-teman sesama penyembah malam. Membincangi segala hal yang tidak penting. Membuat keramaian sendiri di layar handpone atau laptop. Ah, bicarakan apa saja yang penting malam di kepalaku tidak sunyi. Biar saja telingaku yang sunyi.
Kau fikir aku tidak punya jam dinding dirumah? Tidak ada jendela di kamarku untuk mengukur warna awan kira-kira sudah pukul berapa pagi? Aku punya, dan aku tau waktu. Tapi, cobalah nikmati malam mu sekali saja. Ajak kawanan sesama yang baru merasai, biar dirasa sama-sama jadi menyenangkan. Bisa lupa waktu kalau keenakan. Untuk masalah ketagihan, aku tidak mau tanggung jawab. Apalagi masalah keluhan-keluhan akibat menahan kantuk terlalu banyak. Nanti lama-kelamaan kamu bisa lihat sendiri pemberontakan dari mata, mulut, kepala, perut, sampai tulang-tulangmu. Ini bisa jadi pengalaman yang membuat kapok, tapi menagih untuk diulang-ulang. Buktinya saja aku kapok, tapi tetap mengulang kebiasaan ini. Hey ajudan-ajudan jantan ku. Pria-pria malamku. Sahabat-sahabat suara malamku, mari lanjutkan petualangan kita. Malam ini, punya kita!!

Kamis, 26 September 2013

Teman Baruku

Siapa yang tidak bahagia ketika menemukan teman baru? Aku rasa, semua orang akan suka dengan kehadirannya. Kecuali kalau memang sifat si teman itu menyebalkan. Akan habis kepalanya ku jitak-jitak sampai pusing tujuh keliling.
Aku memang cerewet, melebihi bunyi-bunyian yang bisa merusak telinga. Celotehku kadang bising. Tapi, kata teman-temanku yang baik.. Aku ini peramai suasana. Kemarin saja, ketika aku mangkir dari  jadwal kampusku.. Aku dirindukan. Mau lihat buktinya? Aku masih simpan. Tapi tunggu sebentar, aku mengantuk. besok aku berjanji akan kulanjutkan lagi ceritaku. Selamat Malam dulu, mari berselimut.. :)

Teman dan Sahabat


  sekarang sudah jam dua lewat banyak, hampir jam tiga malam. tapi aku masih berjaya melangsungkan perbincangan denganmu. seolah.. kamu itu obat kuat. atau mungkin tepatnya Kopi, penawar rasa kantuk ku..
hey penikmat bosan. berat hati rasanya ketika melepas kamu untuk pergi ke ranjang. maunya aku, kamu tetap terjaga dan menunggui sampai aku yang tertidur lebih dulu. tapi bagimu, siapalah aku? cuma teman bicara. tak lebih punya arti.
hai lagi. hari sebelumnya kamu panggil namaku. tak biasa memang, tapi mungkin hanya perasaanku saja. karena tidak ada yang istimewa bagiku selain itu. pengucapan nama panggilanku
entah pelet dari dukun mana yang kamu pakai, yang jelas aku sudah terpikat. hatiku yang terpikat. tapi aku mau bersikeras tetap bungkam. takut-takut kalau kamu tidak mau lagi mengenal aku. sukur-sukur kalau kamu masih bisa bersikap biasa.
hai, kamu ingin tahu? aku tidak pernah mau meninggalkanmu terlebih dahulu ketika dialog kita sedang diputar Tuhan. aku mau menemani, bicara panjang lebar walau ku tahu bicara ku ngalor ngidul. entah untuk apa. yang jelas, masa-masa malamku ini terasa menyenangkan jika dilalui bersamamu. kadang, aku tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab ketika membaca hasil sentuhan jari jemarimu pada keypad handphonemu, yang kemudian dikirim satelit untuk bisa tiba di layar handphoneku. aku jadi lebih sering tertawa sendiri, mungkin aku mulai gila, atau sudah gila? gila karenamu.. tapi aku telah akan dan selalu mencintaimu sebagai teman dan sahabatku..