sekarang sudah jam dua lewat banyak, hampir jam tiga malam. tapi aku masih berjaya melangsungkan perbincangan denganmu. seolah.. kamu itu obat kuat. atau mungkin tepatnya Kopi, penawar rasa kantuk ku..
hey penikmat bosan. berat hati rasanya ketika melepas kamu untuk pergi ke ranjang. maunya aku, kamu tetap terjaga dan menunggui sampai aku yang tertidur lebih dulu. tapi bagimu, siapalah aku? cuma teman bicara. tak lebih punya arti.
hai lagi. hari sebelumnya kamu panggil namaku. tak biasa memang, tapi mungkin hanya perasaanku saja. karena tidak ada yang istimewa bagiku selain itu. pengucapan nama panggilanku
entah pelet dari dukun mana yang kamu pakai, yang jelas aku sudah terpikat. hatiku yang terpikat. tapi aku mau bersikeras tetap bungkam. takut-takut kalau kamu tidak mau lagi mengenal aku. sukur-sukur kalau kamu masih bisa bersikap biasa.
hai, kamu ingin tahu? aku tidak pernah mau meninggalkanmu terlebih dahulu ketika dialog kita sedang diputar Tuhan. aku mau menemani, bicara panjang lebar walau ku tahu bicara ku ngalor ngidul. entah untuk apa. yang jelas, masa-masa malamku ini terasa menyenangkan jika dilalui bersamamu. kadang, aku tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab ketika membaca hasil sentuhan jari jemarimu pada keypad handphonemu, yang kemudian dikirim satelit untuk bisa tiba di layar handphoneku. aku jadi lebih sering tertawa sendiri, mungkin aku mulai gila, atau sudah gila? gila karenamu.. tapi aku telah akan dan selalu mencintaimu sebagai teman dan sahabatku..