Sedang mau bertengger di bahu sendiri saja. Enggak mau bawa-bawa masing-masing hati. Ditinggal saja dulu di laci, nanti baru dimasukkan kembali setelah ku tulis ini sampai selesai.
Kamu sangat tahu betapa besarnya aku menaruh hati. Kepada siapa? Tentu saja bukan pada laci tadi. Tanpa perlu ku sebutkan, kamu tahu bukan? Tapi tiba-tiba saja mampirlah sebuah cermin besar didepanku. Dia memaksaku untuk berkaca. Kau tahu maksudnya? Aku musti sadar diri, siapalah aku. Bagai seorang yang mencoba narkoba lalu ketagihan setiap hari. Aku ketagihan kamu setiap malam. Selalu menanti walau tak dinantikan.
Wajar saja kalau kamu bilang kamu tidak suka padaku. Toh, nanti juga perasaan ini lalu menghilang. Menguap lama-lama terkena panas hati sendiri. Aih! Menyesal lah aku jika malam itu tak ku utarakan semua yang mengusik di bagian tubuh yang paling lemah ini. Hatiku boss!
Kamu masih dengan pengacuhanmu, sementara aku masih dengan pengagumanku. Sudah tahu kamu menolak tapi aku masih mengharap. Untung saja aku tidak mengemis. Bisa jatuh harga diri ini. Tampar saja aku biar sadar. Kamu buat aku mabuk, cinta!