Siapa yang tidak bahagia ketika menemukan teman baru? Aku rasa, semua orang akan suka dengan kehadirannya. Kecuali kalau memang sifat si teman itu menyebalkan. Akan habis kepalanya ku jitak-jitak sampai pusing tujuh keliling.
Aku memang cerewet, melebihi bunyi-bunyian yang bisa merusak telinga. Celotehku kadang bising. Tapi, kata teman-temanku yang baik.. Aku ini peramai suasana. Kemarin saja, ketika aku mangkir dari jadwal kampusku.. Aku dirindukan. Mau lihat buktinya? Aku masih simpan. Tapi tunggu sebentar, aku mengantuk. besok aku berjanji akan kulanjutkan lagi ceritaku. Selamat Malam dulu, mari berselimut.. :)
ketika hati tak bisa mengungkap rasa, biarkan seluruh jemariku menari mengutarakan perasaan..
Kamis, 26 September 2013
Teman dan Sahabat
sekarang sudah jam dua lewat banyak, hampir jam tiga malam. tapi aku masih berjaya melangsungkan perbincangan denganmu. seolah.. kamu itu obat kuat. atau mungkin tepatnya Kopi, penawar rasa kantuk ku..
hey penikmat bosan. berat hati rasanya ketika melepas kamu untuk pergi ke ranjang. maunya aku, kamu tetap terjaga dan menunggui sampai aku yang tertidur lebih dulu. tapi bagimu, siapalah aku? cuma teman bicara. tak lebih punya arti.
hai lagi. hari sebelumnya kamu panggil namaku. tak biasa memang, tapi mungkin hanya perasaanku saja. karena tidak ada yang istimewa bagiku selain itu. pengucapan nama panggilanku
entah pelet dari dukun mana yang kamu pakai, yang jelas aku sudah terpikat. hatiku yang terpikat. tapi aku mau bersikeras tetap bungkam. takut-takut kalau kamu tidak mau lagi mengenal aku. sukur-sukur kalau kamu masih bisa bersikap biasa.
hai, kamu ingin tahu? aku tidak pernah mau meninggalkanmu terlebih dahulu ketika dialog kita sedang diputar Tuhan. aku mau menemani, bicara panjang lebar walau ku tahu bicara ku ngalor ngidul. entah untuk apa. yang jelas, masa-masa malamku ini terasa menyenangkan jika dilalui bersamamu. kadang, aku tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab ketika membaca hasil sentuhan jari jemarimu pada keypad handphonemu, yang kemudian dikirim satelit untuk bisa tiba di layar handphoneku. aku jadi lebih sering tertawa sendiri, mungkin aku mulai gila, atau sudah gila? gila karenamu.. tapi aku telah akan dan selalu mencintaimu sebagai teman dan sahabatku..
Sabtu, 21 September 2013
Pertama dan Terakhir
Mungkin ini yg terakhir. Ketika aku sudah mulai terbiasa tanpa sapaan mu. Yg biasanya celotehmu indahkan hariku. Sapaan lembut, panggilan spesial, yang kini mulai gelisahkan hari. Karna kesan itu akan segera pudar. Sudah berada di bawah batas normal. Bahkan stock nya sudah sangat menipis. Aku akan benar2 kehilangan. Sebentar lagi kehilangan.. Mungkin ini yg terakhir. Ketika kamu merasa terganggu keingintahuan ku akan kabarmu. Aku yg ingin menjadi rumahmu, tempat mu kembali dan berbagi tentang apa2 saja yg telah kamu lalui seharian. Ya, ini yg terakhir.. Mungkin ini juga yg terakhir. Ketika naungan malam masih memeluk ku dengan lembut. angin nya menghembuskan namamu yg bergerak kian menjauh. Awan nya membentuk lengkung wajahmu yg begitu aku puja. Aku menikmati kesekian fatamorgana mu walau sakitnya tak bisa ku bendung. Tapi ini yg pertama, ketika aku berfikir untuk tidak lagi mengusik. Aku hanya ingin membiarkan mu tenang. Aku hanya akan pergi jika sekiranya kamu memintaku untuk pergi. Itu sudah ku katakan dari awal. kamu sudah tidak mungkin lagi ku jangkau. Kamu berlari, sementara aku menggeret langkah kaki dengan berat. Penuh pikulan ketidakpastian. Aku bagai digantung dalam dua sisi yg sedikit lebih berat pada bagian terburuknya. Ya, yang buruk selalu ada di pihak ku Aku bukan sosok sempurna seperti yg kamu cari. Seperti sosok lain yg sebelumnya. Atau bahkan yang akan datang nanti menggantikan sosok buruk ku dengan keindahan yg tak akan pernah pudar. Untuk nahkoda ku, petunjuk arahku. Kamu skrg sudah memberikan jalan buntu padaku. Apa itu artinya aku harus berhenti disini? Aku masih mencintaimu, sangat dalam. Aku masih ingin bersamamu, sangat lama. Ingin aku berikan rasa sayangku, sangat besar. Aku tidak ingin ada lagi kata perpisahan yg keluar. Aku masih tetap ingin menjadi kekasihmu walaupun aku akan pergi. Aku tidak ingin memutus benang ikatan kita. Kamu boleh menggadaikan hatimu untuk kekasih kedua. Atau aku yg akan dinomer dua kan. Aku merelakan. Karena aku ingin tetap bersamamu, tp tidak terlihat. Kali ini aku benar2 memelas kasih padamu. Mengemis benang rasa.. Aku bagai dibius. Diracuni kesakauan akan hadirmu lagi. Aku seperti kehilangan bagian terang di hidupku.. Jangan, jangan padamkan. Aku takut kegelapan jika tidak bersamamu Aku tahu benar beberapa hal dalam hidup ini tidak akan terjadi untuk kedua kali. Maka, ini yang pertama aku pergi, dan terakhir aku tampak.
Sabtu, 14 September 2013
Jarak kita, Teman..
Selamat malam kembali, kamu yang kali ini akan menjadi topik perbincanganku disini. Bukankah seharusnya kamu menyapaku malam ini? Seperti yang biasa kamu lakukan. Tetapi.. beberapa hari ini kamu menghilang. Kamu sedang asyik menikmati masa dengan kawan-kawanmu. Menghabiskan malam sampai kamu lupa kalau pagi sudah mulai mengejar. Sementara aku, duduk manis menunggui kalau-kalau blackberry ku berbunyi. Bunyi khas tengah malam itu biasanya datang darimu. Kalau tidak, paling-paling hanya broadcast tidak penting. Karena yang terpenting bagiku hanyalah kamu..
Bolehkah aku jadi si setia yang tetap menunggui? Aku tetap menunggu dalam diam. Ditemani remang lampu kamar yang sengaja tak kumatikan biar mataku tetap terjaga dan kantuk tak berani datang. Disini, aku menanti harap-harap cemas.
Tapi sekali lagi, kekecewaan mulai menampakkan diri. Jam dindingku semakin jauh berpetualang. Memutar jarumnya sampai menunjuk waktu mulai terang. Ya.. kali ini harapanku sirna. Semangatku mulai goyah. Mataku yang sebelumnya selalu tahan terbuka, sekarang mulai panas dan ngilu. Mulutku yang tak pernah menguap jika menungguimu, mulai menggerutu. Hatiku layu, mimik muka ku berubah menjadi sebuah kekecewaan..
Seharusnya sejak awal aku sadar bahwa kamu menganggapku sebatas teman. Kamu datang ketika kamu merasa sendiri. Sementara dalam riuh keramaian, aku tidak sepatutnya berguna bagimu..
Seharusnya tidak pernah ku pautkan hati kepadamu. Karena aku tak pernah dipandang selain dalam sepimu. Apakah ini yang dinamakan bertepuk sebelah tangan? Tak indah,Tak bersuara, hanya hening yang akan terasa bersama hembusan angin.
Salahku memang taj pernah mengutarakan rasa secara gamblang padamu. Aku takut kamu menghindar. Sementara aku menikmati masa-masa sesimpul senyumku hadir saat berbincang denganmu. Aku harus rapi menjaga perasaanku kali ini. aku tak mau salah mangsa dan terlalu cepat menerkam, sehingga yang aku telan adalah binatang berbisa.
Aku ingin pelan-pelan tapi pasti. Sayangnya, aku memang melakukan hal itu pelan-pelan dan hasilnya memang pasti. Sudah dipastikan jarakku di matamu hanya sebatas teman..
Bolehkah aku jadi si setia yang tetap menunggui? Aku tetap menunggu dalam diam. Ditemani remang lampu kamar yang sengaja tak kumatikan biar mataku tetap terjaga dan kantuk tak berani datang. Disini, aku menanti harap-harap cemas.
Tapi sekali lagi, kekecewaan mulai menampakkan diri. Jam dindingku semakin jauh berpetualang. Memutar jarumnya sampai menunjuk waktu mulai terang. Ya.. kali ini harapanku sirna. Semangatku mulai goyah. Mataku yang sebelumnya selalu tahan terbuka, sekarang mulai panas dan ngilu. Mulutku yang tak pernah menguap jika menungguimu, mulai menggerutu. Hatiku layu, mimik muka ku berubah menjadi sebuah kekecewaan..
Seharusnya sejak awal aku sadar bahwa kamu menganggapku sebatas teman. Kamu datang ketika kamu merasa sendiri. Sementara dalam riuh keramaian, aku tidak sepatutnya berguna bagimu..
Seharusnya tidak pernah ku pautkan hati kepadamu. Karena aku tak pernah dipandang selain dalam sepimu. Apakah ini yang dinamakan bertepuk sebelah tangan? Tak indah,Tak bersuara, hanya hening yang akan terasa bersama hembusan angin.
Salahku memang taj pernah mengutarakan rasa secara gamblang padamu. Aku takut kamu menghindar. Sementara aku menikmati masa-masa sesimpul senyumku hadir saat berbincang denganmu. Aku harus rapi menjaga perasaanku kali ini. aku tak mau salah mangsa dan terlalu cepat menerkam, sehingga yang aku telan adalah binatang berbisa.
Aku ingin pelan-pelan tapi pasti. Sayangnya, aku memang melakukan hal itu pelan-pelan dan hasilnya memang pasti. Sudah dipastikan jarakku di matamu hanya sebatas teman..
Begitulah aku memanggilnya..
"MA" begitu kupanggil namanya. ini kali pertama perbincangan panjangku dengan nya. Biasanya dia hanya tayang didalam barisan recent updates ku dengan lagu-lagu yang sedang dia putar. Aku tertarik dengan beberapa playlist nya. Bisa dibilang seleranya tinggi.
Dia manusia yang bungkam. Dibanding teman-temannya. Ku kenali dia sebagai 'minoritas'. Teman-temannya yang lain senang mematikan wanita dengan kata-kata bualannya. Itu yang ku nilai daari perbincanganku dengan mereka. Aku menelaah satu persatu pribadi. Sementara, MA tidak. Dia senang perbincangan singkat dan padat tanpa menarik hati membawa perasaan ikut masuk bersama. Tidak ada kata-kata manis yang buatku melanglang jauh. Aku tidak dibawa melayang oleh bualan manisnya. Aku terrtarik dengan yang satu ini. Dengan MA yang baru aku kenal. Dengan sikapnya yang dingin.
Entah ini hanya penilaian pertamaku, atau aku punya indra ke-enam? Aku mengagumi. Sejak dulu, aku suka pria yang lebuh membungkus diri. Yang diam, tapi berkharisma. Dan itu lebih mematikan. Mereka ku sebut 'minoritas'. MA, si pemilik alis ulat bulu ini sudah menarik hati. Ragaku dan raganya seolah memiliki kutub berlawanan. Aku ingin mengenal dia lebih jauh..
Hari ini, hari kedua aku berbincang dengannya. Kulihat lagi dia tayang dalam recent updates tetap dengan embel-embel listening dibawah namanya. Dia tidak menyapa. Mungkin aku bukan salah satu teman BBM nya yang menarik untuk diajak bicara. Jadi, aku berpura-pura saja meminta sebuah file musik yang tertulis jelas dibawah namanya. Padahal, aku sama sekali tidak mengenal lagu itu. Huh! Ini aku lakukan untuk memulai perbincangan dengan "MA".. Apa aku terlihat bodoh?
Dia manusia yang bungkam. Dibanding teman-temannya. Ku kenali dia sebagai 'minoritas'. Teman-temannya yang lain senang mematikan wanita dengan kata-kata bualannya. Itu yang ku nilai daari perbincanganku dengan mereka. Aku menelaah satu persatu pribadi. Sementara, MA tidak. Dia senang perbincangan singkat dan padat tanpa menarik hati membawa perasaan ikut masuk bersama. Tidak ada kata-kata manis yang buatku melanglang jauh. Aku tidak dibawa melayang oleh bualan manisnya. Aku terrtarik dengan yang satu ini. Dengan MA yang baru aku kenal. Dengan sikapnya yang dingin.
Entah ini hanya penilaian pertamaku, atau aku punya indra ke-enam? Aku mengagumi. Sejak dulu, aku suka pria yang lebuh membungkus diri. Yang diam, tapi berkharisma. Dan itu lebih mematikan. Mereka ku sebut 'minoritas'. MA, si pemilik alis ulat bulu ini sudah menarik hati. Ragaku dan raganya seolah memiliki kutub berlawanan. Aku ingin mengenal dia lebih jauh..
Hari ini, hari kedua aku berbincang dengannya. Kulihat lagi dia tayang dalam recent updates tetap dengan embel-embel listening dibawah namanya. Dia tidak menyapa. Mungkin aku bukan salah satu teman BBM nya yang menarik untuk diajak bicara. Jadi, aku berpura-pura saja meminta sebuah file musik yang tertulis jelas dibawah namanya. Padahal, aku sama sekali tidak mengenal lagu itu. Huh! Ini aku lakukan untuk memulai perbincangan dengan "MA".. Apa aku terlihat bodoh?
yang ku puja diam-diam
Selamat malam, pria yang selalu datang dengan sapaan lembut dikala sang redup menyeruak. Aku mengagumi segala bentuk sapaanmu. Aku dilanda penuh pengharapan akan terbukanya perbincangan kita malam ini. Tapi sekali lagi pikiran gila ku merusak. Apakah ini tanda bahwa kita tak berjodoh? Apakah kita harus berhenti berharap lebih dari sekedar tali pertemanan? Haruskah ku bungkam perasaan berlebih padamu kali ini? Faktanya aku tidak ingin. Impianku hanyalah kita dapat berjodoh. Menggelitik kah keinginanku? Aku harap tidak..
Aku masih rapi menutup perasaan. Aku ratunya dalam hal ini. Bahkan kamu pun tidak tahu bahwa aku menempatkanmu di barisan terdepan.
Aku harap kamu yang akan tersadar lebih dahulu dengan penantian lama ku. Aku malu, tak kuasa, bahkan tak ada daya untuk mengungkapkan kegilaan mental ku untuk kamu yang ku puja diam-diam..
Aku masih rapi menutup perasaan. Aku ratunya dalam hal ini. Bahkan kamu pun tidak tahu bahwa aku menempatkanmu di barisan terdepan.
Aku harap kamu yang akan tersadar lebih dahulu dengan penantian lama ku. Aku malu, tak kuasa, bahkan tak ada daya untuk mengungkapkan kegilaan mental ku untuk kamu yang ku puja diam-diam..
Kamis, 12 September 2013
Langganan:
Komentar (Atom)