Selamat malam, pria yang selalu datang dengan sapaan lembut dikala sang redup menyeruak. Aku mengagumi segala bentuk sapaanmu. Aku dilanda penuh pengharapan akan terbukanya perbincangan kita malam ini. Tapi sekali lagi pikiran gila ku merusak. Apakah ini tanda bahwa kita tak berjodoh? Apakah kita harus berhenti berharap lebih dari sekedar tali pertemanan? Haruskah ku bungkam perasaan berlebih padamu kali ini? Faktanya aku tidak ingin. Impianku hanyalah kita dapat berjodoh. Menggelitik kah keinginanku? Aku harap tidak..
Aku masih rapi menutup perasaan. Aku ratunya dalam hal ini. Bahkan kamu pun tidak tahu bahwa aku menempatkanmu di barisan terdepan.
Aku harap kamu yang akan tersadar lebih dahulu dengan penantian lama ku. Aku malu, tak kuasa, bahkan tak ada daya untuk mengungkapkan kegilaan mental ku untuk kamu yang ku puja diam-diam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar