Senin, 28 Oktober 2013

Lupa Kasih Judul

Eh kamu! Selamat pagi dulu dong. Selamat siang juga boleh lah. Atau Selamat malam saja.. Sebenarnya aku mau menyapa setiap saat, cuma sadar dengan pengacuhan perasaan yang sudah lama dijalin secara paksa nih.. 
Sedang mau bertengger di bahu sendiri saja. Enggak mau bawa-bawa masing-masing hati. Ditinggal saja dulu di laci, nanti baru dimasukkan kembali setelah ku tulis ini sampai selesai. 
Kamu sangat tahu betapa besarnya aku menaruh hati. Kepada siapa? Tentu saja bukan pada laci tadi. Tanpa perlu ku sebutkan,  kamu tahu bukan? Tapi tiba-tiba saja mampirlah sebuah cermin besar didepanku. Dia memaksaku untuk berkaca.  Kau tahu maksudnya? Aku musti sadar diri, siapalah aku. Bagai seorang yang mencoba narkoba lalu ketagihan setiap hari. Aku ketagihan kamu setiap malam. Selalu menanti walau tak dinantikan.
Wajar saja kalau kamu bilang kamu tidak suka padaku. Toh, nanti juga perasaan ini lalu menghilang. Menguap lama-lama terkena panas hati sendiri. Aih! Menyesal lah aku jika malam itu tak ku utarakan semua yang mengusik di bagian tubuh yang paling lemah ini. Hatiku boss!
Kamu masih dengan pengacuhanmu, sementara aku masih dengan pengagumanku. Sudah tahu kamu menolak tapi aku masih mengharap. Untung saja aku tidak mengemis. Bisa jatuh harga diri ini. Tampar saja aku biar sadar. Kamu buat aku mabuk, cinta!

Sabtu, 26 Oktober 2013

A Man with Glasses.

Bolehkah ku samarkan namamu disini sebagai "a man with glasses"? Aku sudah sejak awal memperhatikanmu. Bahkan sebelum kamu benar-benar terduduk sunyi di barisan sejajar, di seberang lengkap dengan kemeja biru ala-ala mu. Kita terhalang jarak sekitaran empat ubin ukuran sedang. Pendaratan pertama di kelas baru. Dengan muka datar kamu mengacuhkan segala hal di sekeliling termasuk aku. Diam. cuma itu yang bisa kamu nampakkan. Serasa tak mau punya kawan. Dan kau tahu, pandangan matamu sudah laksana model iklan L-men  yang so' cool. Hih! kamu memang seperti itu sejak dulu. Aku tahu..
Perhatikan, dulu setiap kali kita bicara berhadapan aku selalu salah tingkah, bahkan tak bisa diam. Menatap matamu saja seperti mau di terkam singa kelaparan. Tapi, setelah ku lihat lebih lama lagi, mengenal lebih jauh dari jarak yang sebelumnya, bahkan kamu sengaja menyuruh aku berlama-lama menghadapkan retina kita masing-masing. Jadi sudah terbiasa, sekarang ku kenali kamu bukan sebagai model iklan itu lagi, tapi ya sebagai dirimu. Yang tidak tahu harus ku gambarkan seperti apa.

Pemujaan.

Tuhan, kali ini aku mau berucap terimakasih kepada-Mu. Mungkin tanpa perlu aku jelaskan, Engkau tahu untuk apa ucapan ini aku tujukan. Tapi, aku ingin sedikit berbagi kisah dengan-Mu kali ini. Biarpun sebenarnya Engkau Yang Maha Mengetahui tanpa perlu aku beritahu dan Engkau Yang Maha Mendengar tanpa perlu kuminta. Maafkan hamba-Mu yang sedikit 'kelebihan bicara' ini Tuhan.
Tuhan, sekali lagi kupanggil nama-Mu. Terimakasihku kali ini adalah untuk mahakarya-Mu. Makhluk yang Engkau ciptakan dari segumpal darah yang kemudian Engkau hadiahi ruh sesuka Mu. Makhluk yang Engkau takdirkan untuk hidup dan menghidupi duniaku sekarang. Aku sangat tahu bahwa tidak ada yang patut dipuja selain Engkau, tapi aku malah memujanya. Sebagai pemuja yang wajar. Tapi kali ini wajarku malah sudah kelewatan. Batasi perasaan ini, biar aku tak memuja yang lain selain Engkau Yang Maha Super Duper Special Mega Awesome. Hahaha!

Malam ini punya kita!!

Gelap dan sunyi. Dua hal yang bisa dijadikan simbol malam secara dewasa. Namun, kamu bisa sebut saja Bulan dan Bintang jika kamu menaunginya sebagai anak kecil.
Entah, aku seperti memuja malam hari. Melawatkan malam begini selalu membuatku banyak merenung. Merenungi segala hal yang menarik untuk direnungi. 
Aku biasa bertahan dalam pelukan malam bersama ajudan-ajudan jantanku. Teman-teman sesama penyembah malam. Membincangi segala hal yang tidak penting. Membuat keramaian sendiri di layar handpone atau laptop. Ah, bicarakan apa saja yang penting malam di kepalaku tidak sunyi. Biar saja telingaku yang sunyi.
Kau fikir aku tidak punya jam dinding dirumah? Tidak ada jendela di kamarku untuk mengukur warna awan kira-kira sudah pukul berapa pagi? Aku punya, dan aku tau waktu. Tapi, cobalah nikmati malam mu sekali saja. Ajak kawanan sesama yang baru merasai, biar dirasa sama-sama jadi menyenangkan. Bisa lupa waktu kalau keenakan. Untuk masalah ketagihan, aku tidak mau tanggung jawab. Apalagi masalah keluhan-keluhan akibat menahan kantuk terlalu banyak. Nanti lama-kelamaan kamu bisa lihat sendiri pemberontakan dari mata, mulut, kepala, perut, sampai tulang-tulangmu. Ini bisa jadi pengalaman yang membuat kapok, tapi menagih untuk diulang-ulang. Buktinya saja aku kapok, tapi tetap mengulang kebiasaan ini. Hey ajudan-ajudan jantan ku. Pria-pria malamku. Sahabat-sahabat suara malamku, mari lanjutkan petualangan kita. Malam ini, punya kita!!

Kamis, 26 September 2013

Teman Baruku

Siapa yang tidak bahagia ketika menemukan teman baru? Aku rasa, semua orang akan suka dengan kehadirannya. Kecuali kalau memang sifat si teman itu menyebalkan. Akan habis kepalanya ku jitak-jitak sampai pusing tujuh keliling.
Aku memang cerewet, melebihi bunyi-bunyian yang bisa merusak telinga. Celotehku kadang bising. Tapi, kata teman-temanku yang baik.. Aku ini peramai suasana. Kemarin saja, ketika aku mangkir dari  jadwal kampusku.. Aku dirindukan. Mau lihat buktinya? Aku masih simpan. Tapi tunggu sebentar, aku mengantuk. besok aku berjanji akan kulanjutkan lagi ceritaku. Selamat Malam dulu, mari berselimut.. :)

Teman dan Sahabat


  sekarang sudah jam dua lewat banyak, hampir jam tiga malam. tapi aku masih berjaya melangsungkan perbincangan denganmu. seolah.. kamu itu obat kuat. atau mungkin tepatnya Kopi, penawar rasa kantuk ku..
hey penikmat bosan. berat hati rasanya ketika melepas kamu untuk pergi ke ranjang. maunya aku, kamu tetap terjaga dan menunggui sampai aku yang tertidur lebih dulu. tapi bagimu, siapalah aku? cuma teman bicara. tak lebih punya arti.
hai lagi. hari sebelumnya kamu panggil namaku. tak biasa memang, tapi mungkin hanya perasaanku saja. karena tidak ada yang istimewa bagiku selain itu. pengucapan nama panggilanku
entah pelet dari dukun mana yang kamu pakai, yang jelas aku sudah terpikat. hatiku yang terpikat. tapi aku mau bersikeras tetap bungkam. takut-takut kalau kamu tidak mau lagi mengenal aku. sukur-sukur kalau kamu masih bisa bersikap biasa.
hai, kamu ingin tahu? aku tidak pernah mau meninggalkanmu terlebih dahulu ketika dialog kita sedang diputar Tuhan. aku mau menemani, bicara panjang lebar walau ku tahu bicara ku ngalor ngidul. entah untuk apa. yang jelas, masa-masa malamku ini terasa menyenangkan jika dilalui bersamamu. kadang, aku tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab ketika membaca hasil sentuhan jari jemarimu pada keypad handphonemu, yang kemudian dikirim satelit untuk bisa tiba di layar handphoneku. aku jadi lebih sering tertawa sendiri, mungkin aku mulai gila, atau sudah gila? gila karenamu.. tapi aku telah akan dan selalu mencintaimu sebagai teman dan sahabatku..

Sabtu, 21 September 2013

Pertama dan Terakhir

Mungkin ini yg terakhir. Ketika aku sudah mulai terbiasa tanpa sapaan mu. Yg biasanya celotehmu indahkan hariku. Sapaan lembut, panggilan spesial, yang kini mulai gelisahkan hari. Karna kesan itu akan segera pudar. Sudah berada di bawah batas normal. Bahkan stock nya sudah sangat menipis. Aku akan benar2 kehilangan. Sebentar lagi kehilangan.. Mungkin ini yg terakhir. Ketika kamu merasa terganggu keingintahuan ku akan kabarmu. Aku yg ingin menjadi rumahmu, tempat mu kembali dan berbagi tentang apa2 saja yg telah kamu lalui seharian. Ya, ini yg terakhir.. Mungkin ini juga yg terakhir. Ketika naungan malam masih memeluk ku dengan lembut. angin nya menghembuskan namamu yg bergerak kian menjauh. Awan nya membentuk lengkung wajahmu yg begitu aku puja. Aku menikmati kesekian fatamorgana mu walau sakitnya tak bisa ku bendung.  Tapi ini yg pertama, ketika aku berfikir untuk tidak lagi mengusik. Aku hanya ingin membiarkan mu tenang. Aku hanya akan pergi jika sekiranya kamu memintaku untuk pergi. Itu sudah ku katakan dari awal. kamu sudah tidak mungkin lagi ku jangkau. Kamu berlari, sementara aku menggeret langkah kaki dengan berat. Penuh pikulan ketidakpastian. Aku bagai digantung dalam dua sisi yg sedikit lebih berat pada bagian terburuknya. Ya, yang buruk selalu ada di pihak ku Aku bukan sosok sempurna seperti yg kamu cari. Seperti sosok lain yg sebelumnya. Atau bahkan yang akan datang nanti menggantikan sosok buruk ku dengan keindahan yg tak akan pernah pudar. Untuk nahkoda ku, petunjuk arahku. Kamu skrg sudah memberikan jalan buntu padaku. Apa itu artinya aku harus berhenti disini?  Aku masih mencintaimu, sangat dalam. Aku masih ingin bersamamu, sangat lama. Ingin aku berikan rasa sayangku, sangat besar. Aku tidak ingin ada lagi kata perpisahan yg keluar. Aku masih tetap ingin menjadi kekasihmu walaupun aku akan pergi. Aku tidak ingin memutus benang ikatan kita. Kamu boleh menggadaikan hatimu untuk kekasih kedua. Atau aku yg akan dinomer dua kan. Aku merelakan.  Karena aku ingin tetap bersamamu, tp tidak terlihat. Kali ini aku benar2 memelas kasih padamu. Mengemis benang rasa.. Aku bagai dibius. Diracuni kesakauan akan hadirmu lagi. Aku seperti kehilangan bagian terang di hidupku.. Jangan, jangan padamkan. Aku takut kegelapan jika tidak bersamamu Aku tahu benar beberapa hal dalam hidup ini tidak akan terjadi untuk kedua kali. Maka, ini yang pertama aku pergi, dan terakhir aku tampak.

Sabtu, 14 September 2013

Jarak kita, Teman..

Selamat malam kembali, kamu yang kali ini akan menjadi topik perbincanganku disini. Bukankah seharusnya kamu menyapaku malam ini? Seperti yang biasa kamu lakukan. Tetapi.. beberapa hari ini kamu menghilang. Kamu sedang asyik menikmati masa dengan kawan-kawanmu. Menghabiskan malam sampai kamu lupa kalau pagi sudah mulai mengejar. Sementara aku, duduk manis menunggui kalau-kalau blackberry ku berbunyi. Bunyi khas tengah malam itu biasanya datang darimu. Kalau tidak, paling-paling hanya  broadcast tidak penting. Karena yang terpenting bagiku hanyalah kamu..
Bolehkah aku jadi si setia yang tetap menunggui? Aku tetap menunggu dalam diam. Ditemani remang lampu kamar yang sengaja tak kumatikan biar mataku tetap terjaga dan kantuk tak berani datang. Disini, aku menanti harap-harap cemas.
Tapi sekali lagi, kekecewaan mulai menampakkan diri. Jam dindingku semakin jauh berpetualang. Memutar jarumnya sampai menunjuk waktu mulai terang. Ya.. kali ini harapanku sirna. Semangatku mulai goyah. Mataku yang sebelumnya selalu tahan terbuka, sekarang mulai panas dan ngilu. Mulutku yang tak pernah menguap jika menungguimu, mulai menggerutu. Hatiku layu, mimik muka ku berubah menjadi sebuah kekecewaan..
Seharusnya sejak awal aku sadar bahwa kamu menganggapku sebatas teman. Kamu datang ketika kamu merasa sendiri. Sementara dalam riuh keramaian, aku tidak sepatutnya berguna bagimu..
Seharusnya tidak pernah ku pautkan hati kepadamu. Karena aku tak pernah dipandang selain dalam sepimu. Apakah ini yang dinamakan bertepuk sebelah  tangan? Tak indah,Tak bersuara, hanya hening yang akan terasa bersama hembusan angin.
Salahku memang taj pernah mengutarakan rasa secara gamblang padamu. Aku takut kamu menghindar. Sementara aku menikmati masa-masa sesimpul senyumku hadir saat berbincang denganmu. Aku harus rapi menjaga perasaanku kali ini. aku tak mau salah mangsa dan terlalu cepat menerkam, sehingga yang aku telan adalah binatang berbisa.
Aku ingin pelan-pelan tapi pasti. Sayangnya, aku memang melakukan hal itu pelan-pelan dan hasilnya memang pasti. Sudah dipastikan jarakku di matamu hanya sebatas teman..

Begitulah aku memanggilnya..

"MA" begitu kupanggil namanya. ini kali pertama perbincangan panjangku dengan nya. Biasanya dia hanya tayang didalam barisan recent updates ku dengan lagu-lagu yang sedang dia putar. Aku tertarik dengan beberapa playlist nya. Bisa dibilang seleranya tinggi.
Dia manusia yang bungkam. Dibanding teman-temannya. Ku kenali dia sebagai 'minoritas'. Teman-temannya yang lain senang mematikan wanita dengan kata-kata bualannya. Itu yang ku nilai daari perbincanganku dengan mereka. Aku menelaah satu persatu pribadi. Sementara, MA tidak. Dia senang perbincangan singkat dan padat tanpa menarik hati membawa perasaan ikut masuk bersama. Tidak ada kata-kata manis yang buatku melanglang jauh. Aku tidak dibawa melayang oleh bualan manisnya. Aku terrtarik dengan yang satu ini. Dengan MA yang baru aku kenal. Dengan sikapnya yang dingin.
Entah ini hanya penilaian pertamaku, atau aku punya indra ke-enam? Aku mengagumi. Sejak dulu, aku suka pria yang lebuh membungkus diri. Yang diam, tapi berkharisma. Dan itu lebih mematikan. Mereka ku sebut 'minoritas'. MA, si pemilik alis ulat bulu ini sudah menarik hati. Ragaku dan raganya seolah memiliki kutub berlawanan. Aku ingin mengenal dia lebih jauh..
Hari ini, hari kedua aku berbincang dengannya. Kulihat lagi dia tayang dalam recent updates tetap dengan embel-embel listening  dibawah namanya. Dia tidak menyapa. Mungkin aku bukan salah satu teman BBM nya yang menarik untuk diajak bicara. Jadi, aku berpura-pura saja meminta sebuah file musik yang tertulis jelas dibawah namanya. Padahal, aku sama sekali tidak mengenal lagu itu. Huh! Ini aku lakukan untuk memulai perbincangan dengan "MA".. Apa aku terlihat bodoh?

yang ku puja diam-diam

Selamat malam, pria yang selalu datang dengan sapaan lembut dikala sang redup menyeruak. Aku mengagumi segala bentuk sapaanmu. Aku dilanda penuh pengharapan akan terbukanya perbincangan kita malam ini. Tapi sekali lagi pikiran gila ku merusak. Apakah ini tanda bahwa kita tak berjodoh? Apakah kita harus berhenti berharap lebih dari sekedar tali pertemanan? Haruskah ku bungkam perasaan berlebih padamu kali ini? Faktanya aku tidak ingin. Impianku hanyalah kita dapat berjodoh. Menggelitik kah keinginanku? Aku harap tidak..
Aku masih rapi menutup perasaan. Aku ratunya dalam hal ini. Bahkan kamu pun tidak tahu bahwa aku menempatkanmu di barisan terdepan.
Aku harap kamu yang akan tersadar lebih dahulu dengan penantian lama ku. Aku malu, tak kuasa, bahkan tak ada daya untuk mengungkapkan kegilaan mental ku untuk kamu yang ku puja diam-diam..

Rabu, 27 Februari 2013

Sampai disini saja.

Perjalanan ini seperti melanjutkan episode sebelumnya. Seperti kisah yang tak berkesudahan. Dihiasi pesakitan yang terasa itu itu saja, bahkan semakin membabi buta. Aku baru mulai akan mencintai, tetapi sekali lagi bias kebohongan mencampuri urusan hatiku. Ah, ada apa dengan jalur hidupku Tuhan? Tak adakah perasaan yang tersisa untuk hati yang penuh tambalan penyakit yang sulit diobati ini? Penyakit cinta tepatnya! Kenapa lagi2 Kau mendatangkan ketakutan itu?
Tuhan, maafkan aku telah membohongi bocah tengil itu, aku membuat seorang tokoh palsu yang kusebut “pacar lama” padanya. Agar tak hanya aku yang sakit hati, tapi dia juga merasakan hal yang sama. Aku sudah berusaha baik padanya Tuhan, aku berusaha untuk benar2 menghargainya. Benar2 menaruhnya di urutan pertama dalam perhatianku. Tapi ya begitulah manusia, tak pernah ada puasnya. Seperti “mantan” ku yang satu itu, yang pantas kusebut “pocong”, dengan hobi nya lompat sana sini mencari incaran pas untuk ditakut2i.
Ah sial! Tuhan, mengapa aku harus menjadi tokoh protagonis disini? Kenapa tidak Kau jadikan aku tokoh antagonis, biar banyak orang yang takut padaku. Tak ada yang berani menyakiti. Termasuk si pocong yang satu itu. Pocong yang tiap lekuk garis wajahnya benar benar ku kenali.
Tuhan, tidak pernah terbersit itikad buruk padanya. Aku hanya minta satu hal, jagalah dia. Mungkin bahagia nya tidak ada padaku, atau mungkin dia belum menemukannya di dalam sini? Di hatiku Tuhan.. semoga kekasihnya nanti mengerti benar bagaimana penyakitnya dan kehidupannya yang klimaks! Tuhan, kisah ini akan kututup, sampai disini saja

Yang baru saja menjadi hangat, kembali dingin.

congrats, kamu berhasil membuat Aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini, mengenang malam yang lalu diatas sebuah loteng tengah kota, berlatar gemericik air dari pijakan yang menyentuh genangan sisa hujan. kamu berhasil membuat aku kehilangan asa lagi, yang baru saja menjadi hangat kembali dingin..
kamu memenangkan hati ini, setelah itu kamu tinggalkan. bodoh! aku terlalu cepat percaya tabiat buruk mu! aku sendiri lagi, yang baru saja hangat kembali dingin..
tabu memang jika kisah ini kita ratapi, kamu yang sangat pintar mencuri, dan aku yang terlalu mudah kehilangan. kita pasangan serasi, si pintar dan si bodoh. aku terkulai dengan perasaan berkecamuk tak karuan, yang baru saja menjadi hangat kembali dingin..
baru saja akan ku tunjuk kamu sebagai nahkoda baruku, tapi kamu (mungkin) mencari awak kapal baru yang (nanti) akan kamu tenggelamkan bersama asa, kepalsuan, harapan kosong.. sama sepertiku. yang dulu hangat kini kembali dingin, mencair, menguap, dan kemudian hilang..

AKU MENGINGATMU DALAM HAL-HAL KECIL YANG AKU CINTAI

Aku tau benar bagaimana perasaanmu saat memutuskan untuk menyelesaikan hubungan ini. Aku tersadar bahwa ini titik akhirku. Titik dimana aku benar2 rapuh, kehilangan sebuah penopang perjalananku. Kehilangan satu kaki, satu hati, satu bagian tubuh yang harus kulepaskan karna kini bukan milikku lagi. Aku menyesal sudah membiarkanmu menghindari perasaan yang aku anggap seperti Gerimis, pemberi kesejukan atas bau tanah yang kering.
Mungkin ini baru awal, masih sulit untuk memulai sesuatu yang berbeda, aku tidak ingin kamu merasakan apa yang aku alami hari ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku pernah sesulit ini memulai apa-apa lagi yang sempat berubah..
Aku menyadari kemunafikan ku sendiri. Aku berpura-pura tidak perduli. Aku berpura-pura baik-baik saja, aku menampakkan senyum dalam guratan wajah, hal yang membuatmu akan semakin rela melepasku sendirian. Dan kamu akan kehilangan rasa bersalahmu karena telah meninggalkanku dalam kebutaan dan kehilangan arah. Kamu akan berfikir bahwa aku bisa berjalan tanpa penopang lagi.
Aku masih tidak bisa, mungkin belum bisa melepaskan rasa ini jauh-jauh. Karena sampai kapanpun, aku tak rela kamu meninggalkanku di persimpangan jalan ini.
Ya, persimpangan jalan. Setelah kamu melepasku di persimpangan jalan ini, lagi-lagi aku dilanda dilema berkepanjangan. Jalan lurus kedepan, memilih berbelok, atau kembali berputar pada jalan di belakang..
Aku tidak menyesal telah memberikan hal-hal baik kepadamu, aku telah melakukan semua hal yang menurutku benar dan bisa membuat kamu bahagia telah menerimanya. Aku tidak akan pernah menyakitimu, sedikitpun tidak akan. Itu satu hal yang bisa kujanjikan. Aku telah akan dan selamanya mencintaimu (lagi) sebagai teman dan sahabatmu. Aku akan mengingatmu dalam hal-hal kecil yang aku cintai, Gerimis, Suara Ombak, Gemericik Air Mengalir, setiap aku menghirup bau tanah basah bekas hujan, aku akan selalu mengingatmu.. terimakasih telah banyak membuatku menunjukan perasaan membabi buta ini.. aku mencintai semua hal yang ada dalam dirimu..